
Saat ini PSSI sedang menyiapkan program mega besar bagi dunia sepakbola Indonesia dengan mengajukan proposal tuan rumah penyelenggara piala dunia 2022.Seorang adhyaksa dault mengatakan bahwa “ini merupakan mimpi, dan orang paling miskin adalah orang yang tidak memiliki mimpi”. Sekilas perumpamaan ini benar adanya, bahkan 100% benar!, namun ada baiknya pula jika kita realistis terhadap kehidupan sepakbola Indonesia.
Tentunya kita semua ingat bagaimana para pengikut Nurdin Halin berusaha sangat keras agar atasannya tidak dilengserkan dari posisi jabatan ketua yang pada saat itu sedang terjerat tindak pidana dan berada di dalam jeruji besi.
Entah lobi apa yang mereka tawarkan ke FIFA hingga kasus ini lolos dari jeratan hukuman sanksi yang berlaku di FIFA, dimana PSSI berada di bawah naungannya. Jangan lupakan pula bagaimana seorang Nurdin Halid mampu mengacak-acak cara kerja KOMDIS PSSI, sehingga KOMDIS terlihat memihak terhadap salah satu klub sepakbola Indonesia. Dan jangan lupakan pula bagaimana rakusnya PSSI dalam bernegosiasi dengan pihak sponsor, sehingga menyulitkan banyak klub bola dalam menggaet pihak sponsor untuk mendanai kebutuhan klub mereka hanya dikarenakan PSSI disponsori oleh salah satu pabrik rokok (bukankah ini monopoli?).
Untuk kasus timnas kita mengalami regenerasi yang sangat buruk, tidak adanya pembinaan pemain muda yang baik, ketidakjelasan program timnas junior, jadwal kompetisi yang selalu acak-acakan, dan masih banyak lagi.
Untuk menyelenggarakan piala dunia diperlukan investasi yang besar, salah satu media elektronik menyebutkan sekitar 8-10 triliun dibutuhkan untuk menyelenggarakan piala dunia, dan tidak ada penyelenggara yang merugi dalam menyelenggarakan piala dunia.
Adhyaksa Dault mengatakan bahwa afrika mampu, kenapa Indonesia tidak mampu? Dilihat dari segi kekuatan ekonomi kedua Negara ini tidak jauh berbeda.
Namun ada sedikit perbedaan yang mencolok. Yaitu prestasi individu pemain sepakbola Indonesia. Tidak ada satu pun pemain dari Negara kita ini yang mampu menembus persaingan eropa! Beda dengan pesepakbola afrika yang telah menyisipkan banyak warganya dalam kompetisi di berbagai Negara dan berbagai level.
Ketidakmampuan pemain Indonesia cukup jelas menggambarkan bagaimana organisasi PSSI tidak mampu dalam menciptakan system perseakbolaan yang baik.
Melihat banyaknya peristiwa yang memalukan serta ketidak mampuan PSSI dalam menjalankan roda organisasinya dengan baik. Impian sebagai penyelenggara piala dunia terlihat hanyalah sebagai alat politik kepentingan kelompok tertentu.
Kita lihat berapa besar yang digelontorkan PSSI untuk mengirim timnas senior dan junior untuk menimba ilmu di luar negeri, namun sayangnya hasilnya belum Nampak sedikit-pun. Jangan pernah beralasan itu adalah proyek jangka panjang karena setelah sekian puluh tahun tidak pernah terlihat kemajuan sedikit pun. Jangan-kan bicara mengekspor pesepakbola ke luar negeri, untuk berkopmetisi di asia Negara saja dada ini sudah sesak memikirkannya. Hal ini menunjukkan cara PSSI dalam menjalankan system pembinaan masih amburadul.
Penyelenggaraan piala dunia 2022 hanyalah suatu alat politik dalam menggapai keinginannya, dan saya melihat dua hal yang patut menjadi pertanyaan kita semua.
Pertama saya melihat ini hanyalah suatu kondisi yang diciptakan oleh Nurdin Halid agar masyarakat segera melupakan kasus perseteruan memalukan bangsa antara dirinya dengan FIFA, dan yang kedua bukankah proyek mega besar ini dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak sebagai lubang baru dalam berkorupsi?
Pilkada sebelumnya Dada Rosada menjanjikan pembangunan stadion mega besar bagi PERSIB untuk mencapai kemenangan PILKADA kota Bandung, namun hingga saat ini tidak pernah ada titik terangnya, tidak ada pembahasan diantara klub, pemerintah, dan warga secara terbuka bagaimana stadion tersebut direalisasikan. Masyarakat terlalu mudah dibodohi, maaf namun ini realita yang ada.
Untuk hal korupsi kita memiliki KPK, BPK serta pihak kepolisian. Namun kita jangan mudah lupa bagaimana pekerjaan mereka sudah berat dalam menjerat para pejabat yang korup. Apakah mereka masih memiliki tenaga dan tingkat konsentrasi yang tinggi dalam memperhatikan tindakan korupsi yang kemungkinan terjadi selama persiapan penyelenggaraan piala dunia.
Saya adalah seorang pemimpi namun saya juga seorang realistis. Tulisan saya sebelumnya menceritakan bagaimana menciptakan suatu organisasi yang kompetitif. Dikatakan bahwa salah satu unsur yang harus diperhatikan adalah pengendalian organisasi, serta system informasi baik itu akuntasni, manajemen, eksekutif, dan yang lainnya.
Sebaiknya bangsa ini perlu sadar untuk jangan terlalu terbuai dengan mimpi-mimpi yang jauh dari realistis. dan seyogyanya PSSI perlu memberikan waktu dan tenaganya untuk menciptakan bibit-bibit pesepakbola muda untuk masa depan timnas.
Kenapa suatu organisasi yang diatur oleh bangsa ini sulit untuk menggapai prestasi yang menggembirakan, namun ketika pihak asing yang menjalankannya, organisasi tersebut dapat mencuat dengan baik. Kesalahannya menurut saya terletak pada bagaimana suatu system diciptakan dan dijalankan.
Mari kita lihat bersama apakah pada tahun 2022 Indonesia dapat menggapai mimpinya seperti yang didengung-dengungkan oleh PSSI atau tulisan di blog ini yang dapat membuktikan kebenarannya.
Read more...